Paradigma Pekerjaan

Change is the only evidence of life

(Evelyn Waugh)

Paradigma Pekerjaan

Di era kompetisi yang ketat seperti sekarang, ribuan orang berebut tempat kerja di instansi dan perusahaan yang daya tampungnya sangat terbatas. Berbagai daya dan upaya dilakukan para calon pekerja untuk meraih harapannya.

Pada kenyataannya, kebanyakan dari kita seringkali terjebak pada pola pikir bahwa kita harus bekerja di suatu bidang tertentu, kebiasaan untuk lebih tertarik pada jenis-jenis pekerjaan yang dianggap mapan oleh kebanyakan orang, dan cara-cara lama yang mengaitkan background pendidikan yang harus sesuai dengan pekerjaan, jelas telah menghambat proses kemajuan kita sendiri. Harapan yang besar ternyata tidak dibarengi dengan usaha yang tepat.

Hal – hal yang kerap terjadi di atas, tentu tidak bisa dibiarkan terus menerus. Harus ada usaha yang lebih keras dibandingkan sebelumnya. Paradigma berpikir kita mengenai proses bekerja sudah semestinya dirubah, diarahkan pada upaya-upaya yang sistematis dan terukur, terutama adalah dengan menyelaraskan kemampuan yang dimiliki dengan kebutuhan yang ada.

Perubahan paradigma adalah proses merubah pola pikir, kebiasaan, cara-cara lama, menuju pola pikir, kebiasaan, dan cara-cara baru yang lebih baik dan lebih efektif untuk meraih cita-cita kita. Pandangan umum, kebiasaan orang kebanyakan, cara-cara yang ditempuh banyak orang adalah sebuah ke-umum-an. Dan fakta begitu jelas membuktikan, bahwa orang-orang sukses, unggul, berprestasi, mendapat kegemilangan adalah orang-orang yang tidak umum, orang-orang yang berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, baik dalam cara memandang suatu persoalan, kebiasaan yang lebih bermanfaat, serta cara-cara cerdas yang dilakukannya.

Begitu pula dengan paradigma kita tentang pekerjaan. Ternyata, penlitian yang dilakukan Standford Research Institut, Harvard University & Carnegie Foundation menyebutkan bahwa “15 % karyawan berhasil dalam pekerjaannya dikarenakan penguasaan pengetahuan ketrampilan dan profesi. Dan 85 % karyawan berhasil dikarenakan penguasaan ketrampilan mengenai manusia” (Sumber : Majalah Human Capital No.13,April 2005).

Pekerjaan pada dasarnya, merupakan sekumpulan tugas-tugas yang menuntut pelibatan tingkat kecerdasan tertentu, kecakapan, pengelolaan emosi yang baik, dan sejumlah syarat keterampilan teknis khusus, sesuai  bidangnya. Sehingga untuk mengetahui itu semua, baik pemerintah, BUMN, maupun perusahaan-perusahaan swasta, menggunakan psikotes, TPA (Tes Potensi Akademik), TKU (Tes Kemampuan Umum) dan beberapa tes lainnya seperti MBTI, DISC, dan Papi Kostik. Diantara tes-tes tersebut, yang paling populer digunakan saat ini adalah tes MBTI baik untuk proses rekrutment, placement, mutasi, bahkan pemecatan. Hal ini disebabkan oleh kemudahan penggunaannya dan kecenderungan ketepatan hasilnya.

Perusahaan tentu ingin mendapatkan pekerja yang cocok berada di posisi tertentu yang dibutuhkan, didukung dengan kemampuan intelektual, wawasan, skill, dan keterampilan sosial dalam berhubungan dengan klien, calon klien, mitra, maupun dengan sesama pekerja. Perusahaan tak akan pernah berani mengambil resiko untuk mengambil pekerja yang tidak cocok dengan posisi yang dibutuhkan, karena itu berarti, menunggu bom waktu bagi kehancuran kinerja perusahaan.

Perusahaan hanya ingin mendapatkan pekerja yang siap baik secara fisik, mental, dan kompetensi yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan perusahaan tersebut. Upayakan agar Anda mendapat keyakinan terhadap posisi pekerjaan yang akan diambil.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *