MENCARI PEMIMPIN BANGSA 2014 DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI

Empat belas tahun pergerakan mahasiswa menuntut reformasi telah berjalan. Kepemimpinan nasional silih berganti berupaya mewujudkan misi-misi reformasi yang dituntut para mahasiswa. Selama ini pula masyarakat dipaksa menelan kenyataan jauh panggang dari api. Apakah memang terlalu berlebihankah harapan masyarakat? Belum cukupkah waktu bagi bangsa ini bermetamorfosa menjadi bangsa yang beradab, adil dan makmur seperti cita-cita bangsa ini?
Tidak ada usaha tegas dari pemerintah untuk mengusut maupun mengadili para koruptor secara imbang. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 masih bisa mencapai 6,23% (YoY) dan merupakan salah satu yang tertinggi di Asia setelah China yang tumbuh sebesar 7,8% (YoY), namun lebih rendah dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 sebesar 6,5%. Pertumbuhan ini juga lebih rendah dibandingkan tahun 2011 yang mampu mencapai 6,5% (Sumber BPS & CEIC). Hingga April 2013, utang pemerintah Indonesia bertambah Rp 48 triliun menjadi Rp 2.023,72 triliun, dibandingkan posisi akhir 2012 Rp 1.975,42 triliun, meski sebelumnya, Presiden menyatakan bakal mengurangi proyek-proyek yang menggunakan utang luar negeri. Berbagai peristiwa sosial-psikologis yang negatif pada anak-anak sebagai akibat meningkatnya peristiwa-peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pembunuhan, penggunaan napza, keretakan keluarga, dan berbagai penyakit yang menghambat perkembangan anak. Juga kejadian-kejadian seperti perang, kerusuhan, konflik, krisis ekonomi, bencana alam. Serta fenomena yang saat ini masih menjadi sorotan adalah Ujian Nasional (UN). Terakhir yang masih hangat adalah kenaikan harga BBM yang terus berefek domino pada penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Usaha pemerintah harus diakui memang tampak, namun ternyata tidak memberikan efek yang signifikan. Ada apa dengan kepemimpinan nasional kita? Seberapa besar upaya dan cara yang harus dilakukan pimpinan nasional untuk memenuhi tuntutan reformasi?

Dalam sudut pandang psikologi, saya berpendapat bahwa kajian ini harus diurai secara sistematis dalam susunan sebagai berikut :
1. Karakteristik Pemimpin Bangsa
2. Bagaimana Cara Terbaik Mendapatkan Pemimpin Bangsa
3. Apa yang Harus Kita Lakukan

Karakteristik Pemimpin Bangsa
Dalam buku ”Essensi Kepemimpinan” (Mewujudkan Visi menjadi Aksi) dengan penulis Erry Riyana H (Jakarta, tahun 2000) diuraikan bahwa pemimpin bangsa harus memiliki karakteristik sebagai berikut :
• Jujur (Honest)
• Kompeten (Competent)
• Melihat kedepan (Forward-looking)
• Selalu memicu inspirasi (Inspiring)
• Pandai, Cerdas (Intelligent)
• Obyektif, berlaku adil (Fairminded)
• Berwawasan luas (Broadminded)
• Berani mengambil risiko (Risk taking, Courage)
• Tidak basa-basi, langsung pada persoalan (Straight-forward)
• Penuh imajinasi (Imaginative)

Berkaca pada karakteristik tersebut di atas, maka sepuluh karakteristik itu dapat di bagi ke dalam beberapa kategori kemampuan. Kemampuan-kemampuan ini digambarkan dalam diagram di bawah ini

Kompetensi Kesuksesan

Kompetensi Kesuksesan

Sebagian ada yang masuk dalam kategori Hard Skill dan sebagian lagi masuk ke dalam kategori Soft Skill.
Soft Skills berperan dalam dua per tiga dari serangkaian kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan, dimana satu per tiganya lagi adalah Hard skill. Dari pembagian ini saja bisa dilihat secara sederhana bahwa soft skill memiliki peran yang lebih banyak dibandingkan hard skill. Soft skills merupakan aktualisasi kecerdasan emosi, yang dasarnya terbagi ke dalam dua bagian, yaitu kompetensi intrapribadi dan interpribadi. Secara definisi dapat diuraikan sebagai berikut:
Hard Skill : Kompetensi profesional, yaitu kemampuan kita untuk menjalankan profesi
tertentu.
Soft Skill :
Kompetensi intrapersonal, yaitu kemampuan kita untuk mengenal dan mengendalikan diri sendiri.
Kompetensi interpersonal, yaitu kemampuan kita untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang lain.
Dari penjelasan di atas dapat dengan mudah kita umpamakan posisi hard skill sebagai “password” dan soft skill sebagai isinya.

Bagaimana Cara Terbaik Mendapatkan Pemimpin Bangsa
Setelah kita mengetahui karakteristik yang harus dimiliki pemimpin bangsa, maka pertanyaan terbesarnya adalah, bagaimana cara terbaik mendapatkan pemimpin bangsa? Dengan pola Pemilu yang sudah disepakati bangsa ini, proses tertinggi dari demokrasi kita yaitu musyawarah mufakat tentu tidak bisa diapikasikan. Maka proses Pemilu seperti apa yang bisa dioptimalkan? Ilmu Psikologi semestinya difungsikan dan berperan dengan signifikan dalam proses Pemilu. Karena Pendekatan psikologi secara sederhana dapat menjawabnya.
Pertama, mari kita lihat proses yang terjadi pada Pemilu selama ini. Data yang didapatkan di Pemilu sebelumnya, yaitu di tahun 2009 sebagai berikut :
• Ada sepuluh bidang kemampuan yang diukur. Kesepuluh kemampuan itu adalah sembilan kemampuan yang terkait jasmani atau organ tubuh. Satu kemampuan yang tersisa, menyangkut kemampuan psikis.
• Kesepuluh bidang yang diukur tersebut mempunyai parameter yang telah ditentukan Ikatan Dokter Indonesia, melalui saran para dokter spesialis.
• Pada dasarnya yang dicari kondisi fisik dan mental itu mampu menjalankan tugas sehari-hari secara mandiri dan mentalnya pun mampu mengambil keputusan, dan menganalisa.
• Pemeriksaan kesehatan capres dan cawapres melibatkan sekitar 66 tenaga kesehatan. Mereka ini terdiri atas 43 orang dokter pemeriksa, dan 23 orang tenaga pengarah dan pendukung. Dari 43 dokter pemeriksa, 29 orang merupakan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sisanya merupakan bantuan dari RSPAD Gatot Subroto.
• Untuk pemeriksaan kesehatan, Komisi Pemilihan Umum menjadwalkan akan menghabiskan waktu sepuluh jam.

Dari data tersebut di atas, nampak sekali bahwa peranan ilmu Psikologi sangat sedikit dan tanpa keterlibatan Psikolog karena dilakukan oleh Psikiater yang nota bene background Kedokteran, bukan Psikologi. Secara sekilas saja, dipertanyakan baik mengenai kompetensi pemberi tes maupun kualitas hasilnya. Tes Psikologi yang dianggap ideal saja misalnya, membutuhkan waktu seharian, dari pagi sampai sore, bukan hanya satu jam saja. Alat ukur yang digunakanpun MMPI, suatu alat yang sebenarnya telah mengalami “peremajaan” hingga beberapa alat tes seperti EPPS, Papi Kostik, dan sebagainya yang tentu hasilnyapun lebih akurat.

Psikotes pada dasarnya upaya untuk mengungkap potensi yang ada serta meramalkan kecenderungan perilaku yang akan muncul kemudian. Psikotes juga dapat mengungkap dan mencari tahu sebab dan alasan munculnya perilaku tersebut. Hal ini dikarenakan sifat beberapa alat tes dapat bersifat proyeksi atau bersifat klinis. Yang diukurnya adalah :
Aspek kemampuan
Misalnya kemampuan analitis dan sintesis (daya nalar) dalam pemecahan masalah, kemampuan hitungan, pengetahuan umum.
Aspek sikap kerja
Misalnya kecepatan kerja, ketelitian, daya tahan terhadap tekanan (stres), ketekunan, keteraturan dalam bekerja.
Aspek kepribadian
Misalnya kepemimpinan, kerja sama, kematangan emosi, kepercayaan diri, penyesuaian diri, keterampilan interpersonal, motivasi.

Selain Psikotes, proses pengukuran sebenarnya dapat dikembangkan pula meliputi Assessment yang memiliki banyak kelebihan untuk melengkapi hasil dari Psikotes yaitu :
Assessment mengungkap kompetensi, yaitu memotret perilaku yang muncul secara langsung.
Penerapan multi-metode untuk mencegah terjadinya bias dan mendapatkan reliabilitas pengukuran yang terbaik :
In-Basket Exercise
Instrumen ini merupakan simulasi dari situasi nyata yang dihadapi pegawai dalam menjalankan tugas sehari-hari. Pada simulasi ini, partisipan akan diberikan setumpukan memo, surat atau dokumen kerja yang harus direspon oleh partisipan secara tertulis. Pada simulasi in-basket dilakukan interview untuk mengetahui strategi dan latar belakang yang mendasari tindakan dari partisipan.
2. Group Discussion
Dalam simulasi ini, partisipan akan diminta untuk membahas suatu masalah guna mencapai konsensus bersama.
3. Case Analysis
Dalam simulasi ini partisipan diminta untuk memecahkan suatu masalah. Peserta akan menganalisa permasalahan berdasarkan informasi yang diberikan, memberikan solusi, juga perencanaan penyelesaian permasalahan.
4. Presentation
Dalam simulasi ini partisipan diminta untuk menyampaikan presentasi. Bahan yang digunakan untuk presentasi ini adalah laporan yang telah ditulis peserta dalam simulasi Case Analysis.
5. Test of Creative Thingking
Dalam simulasi ini, partisipan diberi satu set pertanyaan yang mencakup berbagai situasi. Partisipan diminta untukmemberikan respon kreatif untuk menangani situasi tersebut.
6. Role Play
Merupakan simulasi interaksional dimana para partisipan akan dihadapkan pada situasi tertentu. Misalnya, berhadapan dengan bawahan yang bermasalah.

Terdiri atas beberapa assessor (penilai).
Keterlibatan multi-assessor ini dilakukan agar penilaian kompetensi peserta dapat lebih objektif dan menekan bias yang mungkin terjadi.
Terdiri atas beberapa peserta
Keterlibatan multi-partisipan ini bertujuan memastikan terciptanya interaksi di antara para peserta assessment (assessee) pada simulasi yang akan diobservasi.
Integrasi data assessment.
Melalui beragam simulasi, para assessor melakukan observasi terhadap perilaku para peserta. Hasil observasi dan penilaian dari para assessor akan diintegrasikan untuk menentukan skor final dan digunakan sebagai dasar pembuatan laporan.

Manfaat yang dapat digunakan dari hasil Assessment antara lain:
• Memperoleh kriteria terbaik yang paling tepat untuk dipilih.
• Mengidentifikasi kader-kader pemimpin melalui suatu metode yang memiliki akurasi dan objektivitas yang dapat diandalkan.
• Menghasilkan strategi dan tindakan pengembangan yang spesifik dan terencana.
• Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi.

Apa yang Harus Kita Lakukan
Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh perangkat Psikologi, maka sudah semestinya peranan Psikolog diberi ruang yang lebih luas agar bisa lebih berdaya guna bagi terpilihnya pemimpin bangsa yang terbaik dari semua aspeknya. Satu hal terakhir adalah, hasil dari serangkaian tes untuk calon pemimpin bangsa sudah sewajarnya diketahui oleh seluruh komponen bangsa. Karena jabatan itu adalah jabatan publik, jika saat ini harta kekayaan para calon harus diketahui rakyatnya, maka hasil pemetaan kesehatan jiwa dan ragapun sudah selayaknya diketahui rakyat. Maka yang harus kita bersama lakukan adalah :

1. Dorong pihak-pihak terkait (Eksekutif-Legislatif-Yudikatif) untuk memperjuangkan sistem pemeriksaan capres-cawapres menggunakan psychological assessment.
2. Dorong pihak-pihak terkait untuk bisa mengumumkan Hasil tes Kesehatan fisik & Psikologi ke publik, sehingga upaya-upaya katrol citra bisa diredam.
3. Mari kita mulai turut berpikir positif tentang masa kini dan masa depan bangsa, karena apa yang kita pikirkan, itu yang akan terjadi.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *