Memotret Diri dengan Kamera MBTI (2)

Apa yang terbentang di hadapan dan di belakang kita tak begitu penting. Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di dalam diri kita.

(Oliver Windell Holmes)

Tidak susah untuk mengolah diri. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk menemukan citra diri Anda. Yang perlu disadari adalah yakinkan bahwa dengan mengenal siapa diri Anda sendiri, Anda sadari bahwa ini adalah modal Anda dalam membuka keleluasaan jalan Anda.

Anda dapat dengan mudah menggunakan kamera MBTI (Mayers-Briggs Type Indicator) untuk memotret kecenderungan kepribadian Anda. Alat ini bukan untuk mengetes Anda apakah baik atau buruk. Secara lahiriah, kepribadian tidak ada yang baik maupun buruk. Nilai dari sebuah kepribadian adalah kemampuan dalam menyeimbangkan diri ketika mengahadapi situasi. Perlu diingat bahwa pengaruh lingkungan sangat kuat terhadap tingkat perubahan kepribadian Anda.

Berdasarkan kamera MBTI, ada empat dimensi preferensi manusia. Setiap dimensi menampilkan dua preferensi yang berpasangan. Preferensi ini didasarkan pada:

Bagaimana memusatkan perhatian

=>

(EXTROVERT-INTROVERT)

Bagaimana menerima informasi dari luar

=>

(SENSING-INTUITION)

Bagaimana menarik kesimpulan dan keputusan

=>

(THINKING-FEELING)

Bagaimana pola hidup

=>

(JUDGING – PERCEIVING)

Sensing

Apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba, dan lain sebagainya, adalah dasar bagi dirinya dalam mencari, menanggapi, atau memahami informasi yang masuk pada dirinya. Baginya, fungsi inderawi menjadi alat ukur yang nyata dalam memandang situasi. Ia lebih yakin dengan bukti, konkret, fakta yang terlihat, dan mengalaminya secara langsung.

Di lingkungan pekerjaan, ia lebih suka dengan hal-hal yang praktis untuk menghasilkan sesuatu yang riil. Ia lebih cermat dalam mengamati hal-hal dari sebuah informasi. Apa yang ia lihat dan alami, ia kerjakan.

 “….Saya ingin pekerjaan ini selesaikan selangkah demi selangkah, dengan mengikuti prosedur yang ada, tidak hanya itu, perhatikan setiap penggunaan uang operasional kantor sekecil apa pun, untuk digunakan apa saja, dan laporkan secara rinci ….”

Tipe sensing ini, lebih melihat pada hal-hal yang fisik dari pada metafisik. Dalam menganalisa masalah, ia akan menguraikan berdasarkan pengamatan pada peristiwa yang terjadi di lapangan. Ia selalu memperhatikan rambu-rambu atau tata tertib yang berlaku pada lingkungan pekerjaan.

“…Saya menyaksikan persitiwa ini dengan mata kepala sendiri, saya mendengar komentar dari teman kerja saya, kita jangan menunggu-nunggu kemungkinan apa yang akan terjadi, lebih baik segera kita lakukan pekerjaan ini…”

Baginya pengalaman menjadi pelajaran dan pegangan yang kuat untuk menghadapi situasi.

“…Pengalaman kita kemarin adalah keberhasilan bagi kita, kita harus melakukan hal yang sama, jangan bertindak gegabah yang aneh-aneh sebelum tindakan itu benar-benar terbukti berhasil….”

Orang yang realistis ini, cenderung tidak larut dalam pandangan-pandangan yang imajinatif. Baginya, mengkhayal terlalu dramatis dan melangit. Ia tidak ingin menghasikan waktu hanya dengan merenung atau berefleksi. Cara mempersepsi situasi, ia standar fisiklah yang menjadi tolak ukur. Tak heran jika ia menimbulkan kesan yang bersifat materialistik.

“…Tunggu dulu kawan, jangan melakukan tindakan ini, karena penyikapan seperti ini belum pernah saya alami…”

Intuition

Dalam mencermati informasi, tipe intuition ini cenderung menghubungkannya dengan apa yang ia anggap memiliki keterkaitan, bersifat korelatif. Ia tidak melihat apa yang terjadi, namun cenderung fenomena apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Ia melihat gejala atau kemungkinan yang akan terjadi. Maka ia pun mempersiapkan hal-hal tersebut meskipun kemungkinan tersebut belum tentu akan terjadi.

Sosok yang imajinatif ini, bergairah dengan hal-hal yang abstrak. Tak heran jika ia disebut pengkhayal. Dalam menafsirkan sesuatu, ia cenderung dramatis. Pandangannya bersifat inovatif dengan melompat tanpa mengurut satu persatu. Ia abai dengan ketentuan-ketentuan atau yang bersifat mekanistik.

Dalam mengerjakan sesuatu, entah ia mengawalinya dari mana baginya tak penting, jauh lebih penting adalah melakukan terobosan-terobosan dengan mencari kesempatan-kesempatan untuk mendapatkan hal yang baru.

“….Di seberang sungai mungkin ada emas, saya harus melompati sungai ini, dari pada harus bertahap membuat jembatan bambu satu persatu kemudian menyebrang…” 

Ia lebih mementingkan kebutuhan masa yang akan datang meskipun kurang peduli dengan proses pencapaian hari ini.

“…Banyaklah menabung untuk masa depan, biarlah sejenak bersakit-sakit dahulu hari ini…”.

Analogi atau pengalaman di luar dirinya, serta gambaran umum lain menjadi pegangan dalam menyikapi situasi. Ia suka membandingkan informasi yang ia terima dengan informasi yang lain. Perbandiangan ini ia lakukan untuk menemukan hubungan-hubungan yang menhasilkan idea tau gagasan belum pernah dia alami. Nampaknya, ide yang menantang baginya lebih menarik, ia bermain spekulasi ke depan.

“…Bayangkan keberhasilan demi masa depan, apa yang saya lihat bukanlah apa-apa, kenyataan adalah apa yang ada dibalik mata saya, dan ini bukanlah kenyataan yang sebenarnya, itu hanya kasat mata belaka…”

Bagi si intuisi, gungsi inderawi hanya sebagi media atau pintu untuk menyerap informasi saja, bukan untuk mempersepsi sebuah informasi. Pendangan terhadap dunia muncul lewat proses pengahatan. Si intuitif kaya akan inpirasi dan ide-ide yang berbau kreatif.

 “…Untuk menempuh puncak bukit gunung di ujung sana, kita coba cari jalan baru, terlalu bosan dengan rute jalan yang sudah saya lalui….”

Tantangan baginya hal yang menarik, sebaliknya ia jemu dengan kegiatan yang rutin dan monoton.

Sensing

Intuition

  • Pengalaman menjadi ukuran dalam memecahkan masalah.
  • Senang menerapkan apa yang ia pelajari.
  • Menyelesaikan tugas setahap demi setahap.
  • Fokus pada apa yang ada.
  • Menikmati masa sekarang dan enggan mengorbankannya untuk kebaikan masa depan.
  • Memperhatikan rincian dan bagian-bagian khusus.
  • Hidup di masa kini dan menikmati semua yang ada.
  • Lebih suka mengerjakan hal-hal praktis dan pragmatis.
  • Menyukai hal-hal yang pasti, yang dapat diukur.
  • Mulai dari titik awal dan mengerjakan langkah demi langkah.
  • Mematuhi petunjuk dan memperhatikan bagian-bagian kecil.
  • Menyukai prosedur yang tertentu dan kegiatan rutin yang sudah pasti.
  • Orang sensing mungkin menimbulkan kesan materialaistik dan bertele-tele.
  • Sensing membutuhkan intuition untuk menyeimbangkan.
  •  Memperhatikan pola-pola dan hubungan-hubungan.
  • Umum dan cenderung abstrak.
  • Hidup terarah ke masa yang akan datang dan mempersiapkan apa yang akan terjadi daripada sekarang.
  • Lebih suka memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
  • Inspiratif, imajinatif, dan inovatif.
  • Menyukai kesempatan-kesempatan untuk dapat menemukan hal-hal baru.
  • Mulai dari mana saja dan mengerjakan melompati urutan langkah-langkah.
  • Mengabaikan petunjuk dan mengikuti firasat.
  • Menyukai perubahan-perubahan dan variasi-variasi.
  • Orang intuition mungkin menimbulkan kesan plin-plan.
  • Intuition membutuhkan sensing untuk menyeimbangkan.

Kelebihan dan Kelemahan Sensing dan Intuition

Sensing

Intuition

Kelebihan

Kelemahan

Kelebihan

Kelemahan

  • Patuh dengan aturan dan prosedur.
  • Mampu menyelesaikan pekerjaan secara rinci.
  • Mampu mengamati secara detail.
  • Bekerja berdasarkan fakta yang ada.
  • Mengerjakan berdasarkan pengalaman.
  • Tekun.
  •  Ide yang muncul terkadang tidak imajinatif dan inovatif.
  • Lupa dengan persoalan garis besar (umum).
  • Pandangannya menjadi Hitam dan Putih.
  • Terkadang kaku dengan hal-hal yang baru, atau bahkan menghindar.
  • Terkadang bekerja kurang efesien.
  •  Suka dengan pemecahan masalah dengan solusi yang baru.
  • Dapat melihat kemungkinan atau gejal dibalik peristiwa.
  • Mampu memandang persoalan secara umum (garis besar).
  • Antusiasme tinggi dalam bekerja.
  •  Jenuh dengan keadaan rutin.
  • Tidak realistis dan praktis.
  • Mungkin saja inspirasinya buruk.
  • Tidak memiliki fakta yang rinci dan data yang detail.
  • Ketertarikan hilang pada waktunya mengaplikasikan ide-idenya.

Memotret Diri dengan Kamera MBTI (3)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *